Selasa, 27 Maret 2012

Etika dan Perilaku Etis dalam Organisasi


Etika meliputi persoalan moral dan pilihan dan berhubungan dengan perilaku yang benar dan salah. Sekarang ini disadari bahwa yang menentukan perilaku etis bukan hanya individu dan kelompok, tetapi juga sejumlah faktor yang relevan dari lingkungan budaya, organisasi, dan eksternal. Pengaruh budaya pada perilaku etika berasal dari keluarga, teman, tetangga, pengetahuan, agama, dan media. Pengaruh organisasi berasal dari kode etik, model peran, kebijakan dan praktik, serta sistem penghargaan dan sanksi. Kekuatan eksternal yang memiliki dampak pada perilaku etis adalah perkembangan politik, hukum, ekonomi, dan internasional. Faktor tersebut sering bekerja secara saling tergantung dalam membentuk perilaku etis individu dan kelompok dalam organisasi.


 Dampak Etika pada Hasil “Bottom-Line”
        Bottom line adalah istilah akuntansi yang mengakui adanya laba bersih dari operasi bisnis sesudah semua biaya bisnis dibayar. Selain persoalan moralitas seputar etika di tempat kerja, bukti-bukti mengenai adanya program etika dan pembayaran gaji yang etis pada perusahaan juga kian meningkat.
        Disamping persoalan moral dan pedoman program etika serta iklim budaya organisasi, dalam kerangka mengenai diversitas, etika juga mempunyai dampak pada bagaimana karyawan diperlakukan dan bagaimana mereka melakukan pekerjaannya. Dengan kata lain, etika dapat memengaruhi keadaan karyawan dan kinerja mereka. Secara khusus, masalah-masalah sosial saat ini yang berhubungan dengan keterlibatan perusahaan dalam pelecehan seksual dan hak privasi.
 Pelecehan Seksual
        Pelecehan seksual di tempat kerja dapat didefinisikan sebagai tindakan seksual yang tidak diinginkan, permintaan perlakuan seksual, atau melakukan tindakan seksual yang sifatnya verbal maupun fisik.
        Terdapat sejumlah langkah yang diambil organisasi untuk memastikan bahwa karyawannya tidak terlibat dalam pelecehan seksual dan jika mereka melakukannya, akan diselesaikan dengan tepat.
1.         Memeriksa karakteristik organisasi yang tuli. Manajer sebaiknya bersahabat dengan indikator masalah utama dan tetap waspada untuk mempertahankan lingkungan kerja yang bebas pelecehan seksual.
2.         Bantuan bagi dukungan manajemen dan pendidikan. Manajer dan pemimpin harus menyadari bahwa mereka telah menetapkan standar melalui perilaku mereka sendiri. Oleh karena itu, penting untuk melatih dan mendidik manajer mengenai apa yang merupakan pelecehan seksual dan langkah apa yang diperlukan untuk memecahkan keluhan tersebut.
3.         Tetap waspada. Semua manajer sebaiknya berusaha mengeliminasi faktor yang menyebabkan lingkungan kerja yang bermusuhan.
4.         Mengambil tindakan cepat. Semua laporan pelecehan sebaiknya dianggap serius dan segera ditindak.
5.         Menciptakan kebijakan terbaru. Organisasi sebaiknya mengembangkan kumpulan kebijakan dan prosedur untuk menyesuaikan dengan keadaan khusus.
6.         Menciptakan prosedur pelaporan yang jelas. Fitur kunci dari kebijakan “pengguna-bersahabat” meliputi prosedur yang jelas untuk mengajukan tuntutan, mekanisme untuk memastikan investigasi yang cepat oleh seluruh manajer, dan ketentuan untuk melindungi privasi yang menuduh dan tertuduh.
 Persoalan Privasi Karyawan
        Selain pelecehan seksual, persoalan etika yang lebih langsung meliputi privasi di tempat kerja. Salah satu perkembangan adalah teknologi komputer yang sekarang memudahkan perusahaan memelajari informasi mengenai karyawan mereka. Hal lain adalah pengujian pemakaian obat terlarang, sebuah kebijakan yang telah dilembagakan oleh banyak organisasi. Yang ketiga adalah usaha organisasi untuk mengontrol gaya hidup karyawan.
        Selain bank data komputer yang menyimpan semua jenis informasi personal, teknologi komputer juga dapat memengaruhi privasi karyawan karena dapat mengetahui komunikasi orang lain. Sebagai contoh, jutaan karyawan menggunakan surat elektronik (e-mail) dan punya kode identifikasi password yang seharusnya memastikan privasi seseorang. Sayangnya, kode tersebut bisa bocor, dan pesan dalam e-mail seseorang dapat dibaca.
            Selain implikasi etika e-mail, terdapat juga persoalan privasi/etika yang melibatkan hak perusahaan dan perlunya kerahasiaan serta keamanan informasi perusahaan. Ancaman yang relatif baru pada privasi muncul dalam bentuk pengaturan perusahaan atas gaya hidup karyawan.

0 komentar:

Posting Komentar